Abadi Dalam Sastraku
Ku berjalan diantara suasana dinginnya hujan dan panasnya hati. Entah apa yang ku cari, entah apa yang ku tuju. Seperti serpihan kertas yang tertiup angin, terbang membolak-balik namun tak tau dimana ia jatuh. Hari ini aku menjalani bab baru dalam hidupku. Kerja!. bukan hal baru bagiku. Tapi ini beda. Kalau sebelumnya kerja dengan status ku sebagai pelajar, kini tidak. Tidak ada kata main-main dalam bekerja. Ku butuh materi untuk menyambung hidup. Aku anak laki-laki, tertua, di keluarga. Laki-laki adalah imam keluarga dan aku adalah calon imam keluarga.
Semakin ku berjalan ke depan semakin ku tau arti kedewasaan. Meskipun ku menghadap ke depan toh aku akan menoleh juga ke belakang. Masa-masa sekolah, pertemanan, romance telah tersimpan rapi dalam album kenangan. Bila di ingat sebentar rasanya.. sesebentar menengguk air di sloky.
Aku masih ingat kala masih polos dengan baju putih abu-abu baru dengan teman baru pula. Aku menjabat tangan kalian dengan senyuman dengan nada sok akrab. Kini jabatan kita berbeda makna. Ku yakin kau tau apa maksud ini. Terlalu panjang dan cukup rumit bila ku ceritakan kisah ini seutuhnya. Tapi..
"hii cuma begini pantainya?? ayo pulang-pulang
"Bentar... kita nikmati aja yang ada, main bola gimana?"
"ya udah terserah"
"selfie dulu rek " :D
"hahah siip"
Bukan pantai atau tempatnya kawan yang memberi kesan, tapi sebenarnya kita. Kita yang menjadi aktor dalam latar tersebut.
hingga di ujung acara kita berpisah namun sesaat, menerobos hujan lalu makan di warung kecil. ingatkah engkau?? sampai diantara kita berucap "semoga ini bukan yang terakhir, gimana kalau kita selanjutnya ke gunung atau ke pantai yang lain?" indah memang rencanamu, namun maaf aku keluar dari zona itu lebih dulu.
atau....
aku masih ingat dengan ini..
"dim habis ini kamu kerja atau kuliah?"
"gak tau,coba-coba tes kuliah dulu"
"wuah, temenku, sahabatku.. :D nanti kalo sukses jangan lupain aku ya"
"pasti" ada rasa terharu saat engkau bilang begitu.
aku pasti ingat.
engkau kan selalu teringat terkenang dan abadi dalam sastraku
Semakin ku berjalan ke depan semakin ku tau arti kedewasaan. Meskipun ku menghadap ke depan toh aku akan menoleh juga ke belakang. Masa-masa sekolah, pertemanan, romance telah tersimpan rapi dalam album kenangan. Bila di ingat sebentar rasanya.. sesebentar menengguk air di sloky.
Aku masih ingat kala masih polos dengan baju putih abu-abu baru dengan teman baru pula. Aku menjabat tangan kalian dengan senyuman dengan nada sok akrab. Kini jabatan kita berbeda makna. Ku yakin kau tau apa maksud ini. Terlalu panjang dan cukup rumit bila ku ceritakan kisah ini seutuhnya. Tapi..
"hii cuma begini pantainya?? ayo pulang-pulang
"Bentar... kita nikmati aja yang ada, main bola gimana?"
"ya udah terserah"
"selfie dulu rek " :D
"hahah siip"
Bukan pantai atau tempatnya kawan yang memberi kesan, tapi sebenarnya kita. Kita yang menjadi aktor dalam latar tersebut.
hingga di ujung acara kita berpisah namun sesaat, menerobos hujan lalu makan di warung kecil. ingatkah engkau?? sampai diantara kita berucap "semoga ini bukan yang terakhir, gimana kalau kita selanjutnya ke gunung atau ke pantai yang lain?" indah memang rencanamu, namun maaf aku keluar dari zona itu lebih dulu.
atau....
aku masih ingat dengan ini..
"dim habis ini kamu kerja atau kuliah?"
"gak tau,coba-coba tes kuliah dulu"
"wuah, temenku, sahabatku.. :D nanti kalo sukses jangan lupain aku ya"
"pasti" ada rasa terharu saat engkau bilang begitu.
aku pasti ingat.
engkau kan selalu teringat terkenang dan abadi dalam sastraku