Lekaslah Pulang Sayang, Aku Mencemaskanmu
Keluarga kita sekarang sudah tidak utuh lagi. perceraian adalah akar permasalahannya. Entah siapa yang salah dan siapa yang benar. Seandainya aku tau yang salah ku takkan berbicara. Ingin ku keluarga ini utuh. namun aku tak mengerti semua ini. Terasa biasa proses menuju perceraian itu. Cekcok yang semenjak kita kecil menjadi tontonan wajib.
Dari hal sekecil apapun bisa berbuah pertengkaran. Mulai sapu yang tergeletak di lantai atau selambu yang terbuka lebar menjadi contoh kecil yang bisa melahirkan pertengkaran.
kini, foto aku dan kamu ketika berseragam bersanding dengan bapak dan ibu benar-benar menjadi kenangan kelam dalam figura dengan kaca yang pecah.
Lekaslah pulang sayang, aku mencemaskanmu.
Ini tetes hujan terakhir. Dua jam lalu-pukul tujuh-hujan amatlah deras. pikiranku kemana-mana khawtir akan keadaanmu. Engkau dimana sayang dan bersama siapa. Cepat pulang.
Engkau yang semenjak pagi meninggalkan rumah membuatku dan juga ibu bingung. Adikku,bila kau marah dengan keadaan ini janganlah dengan cara seperti ini. pulanglah....
Pundakku siap menyambut air mata dan sedihmu.
Adikku sayang, tulisan ini kubuat di atas bantal kesayanganmu.Semoga kau tau, mau mengerti dan lekas berubah..
Dariku
Bogang