Maaf, Ku Menjebak Mu Dalam Sebuah Janji
Jangan, jangan kau berada diposisiku
Sungguh, berat bila kau merasakan
Cukup kau buat semua ini tak perlu kau merasakan
Ini nyata, ku terlunta-lunta saat kau saksikan
Jangan, jangan kau menuhankan inspirasi lain
Menghabiskan seluruh waktu untuk penawar sepi
Jika tak mau melihat sengsara memburuku
Engkau sungguh hebat dalam hubungan tanpa status ini, tapi ku tak mau kalah. Kau keluarkan jurus-jurus manis nan mematikan membuat terlena. Andai ucapanmu-"Aku ingin memilikimu seutuhnya"_bisa dibeli, sungguh segenap jiwa akan berusaha membelinya. Lalu ku mengumbar kalimat tersebut tepat pada empun sebelumnya. Sudah jelas, agar kau tau apa yang dirasakan seorang patah hati.
Tapi sayangnya diriku bukanlah bumerang. Hanya saja manusia sepertiku menaruh perangkap yang lebih taktis. Biarkan mulut tertawa setelah semalaman mata menangis. Ingatkah, "Anna uhibbu illaik liannallaha" atau kadang berpemanis "Aidhon"?. Engkau berjanji atas nama Tuhan sayangku. Akankah kau lari dari ucapanmu? Aku yakin wanita soleha pasti menepati janjinya, Namun sayangnya janji ini bukan untuk beberapa kali matahari terbit dan terbenam, melainkan selamanya.
Nad, inspirasiku maaf aku menjebakmu agar engkau berjanji tak meninnggalkan diriku. Karena rasa ini tak mau kehilangan pemiliknya.